Obat dengan Nama Generik dan Obat dengan Nama Dagang

Nama generik adalah nama resmi yang telah ditetapkan dalam Farmakope Indonesia dan INN (International Non-propietary Names) WHO untuk zat yang dikandungnya. Nama generik ditempatkan sebagai judul dari monografi sediaan-sediaan obat yang mengandung nama generik tersebut sebagai zat tunggal.
Yang menyebabkan harga obat generik bisa terjangkau adalah :
1.Skala produksi yang lebih besar daripada obat dengan nama dagang menyebabkan biaya produksi lebih efisien.
2.Kemasan obat dengan nama generik yang standar dan sederhana dibanding kemasan obat dengan nama dagang. Kemasan pada obat generik lebih berfungsi sebagai pelindung obat, sehingga desain dan bentuknya sederhana untuk menghemat biaya produksi.
3.Tidak membutuhkan biaya riset.
4.Penentuan harga oleh pemerintah, dengan mempertimbangkan keterjangkauan bagi masyarakat luas.
5.Tidak dipromosikan secara besar-besaran.
6.Adanya subsidi dari pemerintah.

Obat Generik tidak memiliki nama dagang atau merek, hanya menggunakan nama zat aktif obat yang dikandungnya sebagai namanya, contoh : Amoksisilin, Ampisilin, Asam mefenamat, dan lain-lain.
Berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia (UU RI) No 15 tahun 2001 tentang merek, dikatakan bahwa merek dagang adalah merek yang digunakan pada barang yang diperdagangkan oleh seseorang atau beberapa orang, atau badan hukum untuk membedakan dengan barang sejenis lainnya. Merek tersebut terdaftar di Departemen Kehakiman dan mendapat perlindungan hukum selama 10 tahun, dan jangka waktu perlindungan itu dapat diperpanjang.
Dari satu nama generik dapat diproduksi berbagai macam sediaan obat dengan nama dagang yang berlainan, misalnya : Aspilet (berisi : Asetosal), Alphamol dan Panadol (berisi : Parasetamol), dan lain-lain. Nama dagang obat pada saat ditemukan disebut nama paten (Ditjen POM, 2000). Kata ”paten” dalam bahasa Indonesia berasal dari ”patent” yang dalam bahasa Inggris adalah ”suatu hak yang dilindungi hukum untuk tidak bisa ditiru atau dipalsukan”. Obat paten adalah milik suatu industri farmasi penemu formulasi obat, memiliki merek atau proprietary name yang di-patent-kan, terdaftar di Direktorat Jenderal Hak atas Kekayaan Intelektual Departemen Kehakiman, sehingga untuk jangka waktu tertentu, industri farmasi penemu obat tersebut menjadi pemilik sah dari pembuatan dan merek obat. Berdasarkan UU RI nomor 14 tahun 2001 tentang paten, dikatakan bahwa paten diberikan untuk jangka waktu 20 tahun terhitung sejak penerimaan dan jangka waktu itu tidak dapat diperpanjang. Setelah hak paten habis, industri farmasi lain dapat memproduksinya dengan merek yang sama dengan nama umum (generic) yang ditetapkan oleh WHO untuk zat berkhasiat yang dikandung. Jadilah obat tersebut disebut obat generik. Industri farmasi yang lain juga dapat memproduksi obat paten yang telah habis masa patennya dengan nama berbeda yang biasa disebut sebagai me-too product atau di beberapa negara barat disebut branded generic (generik bermerek).

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s